Aksi Nyata Modul 1.1 Filosofis Pendidikan nasional-Ki Hajar Dewantara
AKSI NYATA MODUL 1.1
Oleh: Abdul Roni, S.Pd., M.Pd CGP Angkatan 9 SMK Negeri 1 Suak Tapeh Kabupaten Banyuasin
Ki Hajar Dewantara (KHD) telah memberikan gambaran secara menyeluruh
dan detail dengan menuangkan pemikiran tentang Filosofi Pendidikan.
Berdasarkan Filosofi Pemikiran Bapak Pendidikan KHD Dapat diartikan
pendidikan sebagai tempat untuk menyemaikan benih-benih kebudayaan dalam
masyarakat, hal ini akan menjadi sarana untuk menyadarkan Guru sebagai
pendidik bahwa untuk mewujudkan insan generasi penerus bangsa yang
mempunyai adab dan etika yang baik serta mempunya kualitas pemahaman
yang baik secara keilmuan maupun sosial kultural budaya, maka
diperlukan pendidikan sebagai kunci utamanya. Pendidikan menjadi tempat
yang sangat baik sebagai ruang berlatih, sebagai sarana tumbuh
kembangnyaa nilai-nilai yang melakat pada kemanusiaan yang akan
diwariskan kepada generasi selanjutya. perumpaannya adalah pendidikan
layaknya sebuah kekuatan yang sangat besar, sebuah energi yang dapat
memberikan ledakan besar yang mampu membawa perubahan besar dalam sebuah
peradaban.
<!–more–>
Menurut Pandangan Kihajar Dewantara pendidikan sebagai tanggung
jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. sehingga
dibutuhkan kerjasama yang baik untuk mewujudkan pendidikan yang
berkualitas. Dari pemikiran KHD kita dapat mengambil perumpamaan bahwa
anak seperti bibit tumbuhan, tugas kita menyemaikan, menanam, merawat
dan menjaga tumbuh kembangnya, hasil dari bibit tersebut dapat berbuah
baik atau tidak tergantung cara kita menyemaikan, menanam, merawat dan
menjaganya. Artinya baik buruknya tumbuh kembang anak sebagai generasi
penerus bangsa kunci utamanya ada pada kita, guru, orang tua dan
masyarakat. Terkadang kita langsung menjustifikasi anak tatkala si anak
melakukan kesalahan tanpa kita tahu terlebih dahulu latar belakang
anak, bagaimana kehidupan keluarganya dan bagaimana keadaan lingkungan
masyarakatnya.
Sebagai pendidik terkadang juga kita berprilaku tidak sesuai dengan
Kodrat kita sebagai pendidik, kita dikenal sebagai GURU yang dapat
dimaknai Guguhan dan Tiruan, artinya apa saja yang dilakukan oleh
seorang guru akan menjadi pusat perhatian bagi anak didiknya, kita akan
memberikan contoh dan menjadi contoh bagi anak didik kita, sesuai
dengan Filosofi dari KHD Ing ngarso Sungtulodo artinya didepan
memberikan contoh, selanjutnya seorang guru juga seharusnya menjadi
motivator bagi anak didiknya, selayaknya seorang guru akan memberikan
suport positif bagi anak didiknya bukan menjustifikasi atau menjatuhkan
tatkala anak didik melakukan kesalahan, sesuai dengan Filosofi KHD Ing
Madya Mangun Karso artinya ditengah memberikan dorongan, selain itu juga
sebagai seorang guru hendaknya kita memberikan dukungan postif pada
setiap kretaivitas, inovasi dan apa yang dicita-citakan anak didik kita,
sesuai dengan Filosifi KHD Tut Wuri handayani Artinya dibelakang
memberikan dukungan.
Oleh karena itu, mari kita merenung sejenak, apakah selama ini yang kita
lakukan sebagai seorang guru telah mencerminkan diri sebagai guru
sesuai dengan Filosofi KHD, jika belum maka mulai saat ini mari kita
berprilaku dan bertindak sesuai dengan kodrat kita sebagai guru, menjadi
guru bukan suatu pilhan namun menjadi guru adalah tugas mulia yang
mempunyai tanggung jawab terhadap keberlangsungan kehidupan berbangsa
dan bernegara. Jika akhlak dan prilaku Generasi muda penerus bangsa
tidak baik, maka yang patut dipersalahkan adalah kita sebagai guru
karena tidak mampu untuk mengemban tugas kita sebagai guru yang baik.
Sebelum Mempelajari Modul 1.1 ini ternyata banyak sekali anggapan
yang diyakini benar ternyata keliru dan tidak bersesuaian dengan
pemikiran Kihajar Dewantara diantaranya:
Memandang anak-anak sebagai gelas dan kertas kosong
Selama ini sering seorang guru pada umumya beranggapan bahwa anak
sebagai gelas dan kertas kosong yang dapat diisi dengan apa saja sesuai
dengan keinginan guru, siswa bagaikan kertas kosong yang dapat dicoret
dan diwarnai dengan warna apa saja sesuai dengan selera seorang guru.
Namun ternyata anggapan ini salah, karena anak dilahirkan dengan membawa
kodratnya, tugas guru adalah menebalkan kodrat yang dibawa oleh anak
sehingga menjadi lebih jelas. Anak dilahirkan dengan bakat dan kemampuan
masing-masing, tugas seorang guru adalah menggali bakat dan potensi
yang ada pada diri anak sehingga dapat berkembang.
Memandang semua anak itu sama
Selama ini sebagian besar guru memandang bahwa anak itu sama, padahal
anak dilahirkan dengan membawa kodratnya masing-masing dengan keunikan
tersendiri yang diberikan oleh sang maha kuasa. Selama ini secara umum
sebagian besar guru memaksakan anak untuk mampu menguasai materi yang
dia ajarkan, padadahal Masing-masing anak membawa bakat dan potensi
mereka tersendiri, anak juga mempunyai gaya belajar yang tidak sama
antara anak yang satu dengan anak yang lain, sehingga seharusnya materi,
metode serta strategi pembelajaran yang diberikan tidak seragam, harus
dibedakan sesuai dengan tingkat kemampuan anak, potensi, bakat dan gaya
belajar anak.
Guru adalah Penguasa Kelas
Selama ini guru beranggapan bahwa penguasa kelas sejati adalah guru,
namun hal ini teryata keliru bahwa hendaknya seorang guru “menghamba”
kepada anak, guru seharusnya menjadi pelayan bagi anak untuk
mengembangkan potensi dan bakat yang ada pada diri anak, sehingga
dengananggapan selama ini guru sebagai penguasa kelas membuat
ketidaknyaman anak dalam belajar di kelas, yang ada hanya ketakutan dan
kecemasan dari anak, anak tidak merdeka dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran.
Guru sebagai pusat pengetahuan
Selama ini sebagian ada yang beranggapan bahwa guru sebagai pusat
pengetahuan atau bisa dikatakan sebagai orang yang paling bisa, padahal
sebenarnya ternyata tugas seorang guru sebagai penuntun dan among bagi
anak, artinya biarkan anak berkembang sesuai dengan kodrat dan bakat
serta potensi yang ada pada diri anak.
Kejar Target Tercapainya Kurikulum
Selama ini sebagian besar guru dalam melaksanakan pengajaran target
utamanya adalah tercapainya kurikulum, artinya anak dianggap berhasil
jika nilai mereka mencapai target KKM dan semua materi pelajaran sudah
dikuasai dengan baik, padahal ternyata itu anggapan keliru karena anak
mempunyai potensi dan bakat yang berbeda, yang terpenting adalah bakat
dan potensi anak dapat dikembangkan dengan baik. Selain itu tugas guru
bukan hanya mengajar, namun juga mendidik sehingga kalau hanya
tercapainya target kurikulum maka hal ini merupakan kekeliruan yang
dilakukan.
Oleh Karena itu, Setelah mempelajari modul 1.1 ini membuat paradigma berpikir saya berubah:
Saya tidak lagi memandang anak sebagai gelas dan kertas kosong
karena , karena anak dilahirkan dengan membawa kodratnya masing-masing,
tugas guru adalah menebalkan kodrat yang dibawa oleh anak sehingga
menjadi lebih jelas. Anak juga dilahirkan dengan bakat dan kemampuan
masing-masing, tugas seorang guru adalah menggali bakat dan potensi yang
ada pada diri anak sehingga dapat berkembang.
Saya tidak lagi menanggap bahwa semua anak itu sama
karena anak dilahirkan dengan membawa kodratnya masing-masing dengan
keunikan tersendiri yang diberikan oleh sang maha kuasa. Saya tidak lagi
memaksakan anak untuk mampu menguasai materi yang diajarkan, karena
saya sadar Masing-masing anak membawa bakat dan potensi mereka
tersendiri, anak juga mempunyai gaya belajar yang tidak sama antara anak
yang satu dengan anak yang lain, sehingga materi, metode serta strategi
pembelajaran yang diberikan tidak seragam, harus dibedakan sesuai
dengan tingkat kemampuan anak, potensi, bakat dan gaya belajar anak.
Saya Tidak lagi beranggapan Guru sebagai penguasa kelas
karena sejati adalah guru, namun hal ini teryata keliru bahwa hendaknya
seorang guru “menghamba” kepada anak, guru seharusnya menjadi pelayan
bagi anak untuk mengembangkan potensi dan bakat yang ada pada diri anak,
sehingga dengananggapan selama ini guru sebagai penguasa kelas membuat
ketidaknyaman anak dalam belajar di kelas, yang ada hanya ketakutan dan
kecemasan dari anak, anak tidak merdeka dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran.
Saya tidak lagi beranggapan bahwa guru sebagai pusat pengetahuan,
karena ternyata tugas seorang guru sebagai penuntun dan among bagi
anak, artinya biarkan anak berkembang sesuai dengan kodrat dan bakat
serta potensi yang ada pada diri anak. Pengetahuan dapat diperoleh anak
dari berbagai sumber dan pengalaman mereka.
Saya Tidak lagi beranggapan bahwa Tuntasnya kegiatan Pembelajaran dengan tercapainya Target Kurikulum,
karena anak mempunyai potensi dan bakat yang berbeda, yang terpenting
adalah bakat dan potensi anak dapat dikembangkan dengan baik. Selain itu
tugas guru bukan hanya mengajar, namun juga mendidik.
Setelah memahami Filosofis dari pemikiran Ki hajar Dewantara dan
menyadari kekeliruan selama ini, saya bertekad akan memrubah mindset
berpikir saya dan melakukan inovasi dan perubahan pada kegiatan
pembelajaran yang saya lakukan dengan cara:
1. Memberi ruang dan kebebasan pada anak-anak didik saya untuk menggali potensi mereka menurut kodratnya masing-masing.
2. Menerapkan Prinsip-prinsippemikiran Kihajar Dewantara dalam
melaksanakan Kegiatan Pendidikan dan pengajaran di sekolah dan kelas,
adapun prinsip-prinsip pemikiran yang akan diterapkan yaitu:
Menuntun
Tugas guru hanya dapat menuntun untuk tumbuh dan hidupnya kekuatan
kodrat yang ada pada anak-anak, sehingga anak dapat memperbaiki lakunya
hidup dan dapat tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Dalam prosesnya, anak
diberi kebebasan namun pendidik sebagai pamong dalam memberi tuntunan
dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya,
sehingga pendidikan akan berpihak pada anak.
Kodrat anak
Dalam Melaksanakan Kegiatan Pendidikan dan pengajaran, hendaknya
memperhatikan kodrat anak yaitu kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat
alam berkaitan dengan keadaan lingkunga geografis tempat anak tersebut
tinggal serta lingkungan sosio kultural yang ada di tempat diaman anak
itu hidup dan tinggal sehingga akan membentuk kepribadian prilaku anak.
Pengetahuan dan ketrampilan yang diberikan tentunya akan berguna bagi
anak untuk mempertahankan hidup serta mencapai kejayaan di masa yang
akan datang. Sedangkan kodrat zaman hendaknya pendidikan dan pengajaran
yang diberikan sesuai dengan keadaan zaman. Pengetahuan dan ketrampilan
diajarkan sesuai dengan perkembangan zaman, serta apa yang paling
dibutuhkan di zaman dimana era anak hidup. Begitu juga dala pemilihan
metode, strategi maupun materi disesuaikan dengan perkembanganzaman.
Anak sebagai makhluk yang merdeka sehingga hidupnya lahir dan batin
tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan
sendiri. Merdeka yang dimaksud di sini adalah merdeka lahir (pengajaran)
dan merdeka batin (pendidikan). Bermain adalah salah satu kodrat anak
yang mana akan mempengaruhi dalam pembentukan budi pekerti. Bahkan
melalui permainan dapat menjadi bagian pembelajaran di sekolah.
Anak bukan kertas kosong
Anak bukan kertas kosong yang bisa digunakan sesuai
keinginan orang dewasa. Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih
samar-samar. Tujuan pendidikan adalah menuntun (memfasilitasi/membantu)
anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya
untuk menjadi manusia seutuhnya. Menebalkan anak bisa dilakukan dengan
kekuatan konteks sosio kultural. Seperti dalam teori konvergensi.
Salam Bahagia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar